Halal Bihalal merupakan momentum krusial, selain untuk mensucikan hati dan mempererat ukhuwah Islamiyah, juga untuk menyampaikan program atau progres pemerintahan. Hal itu dilakukan Wali Kota Depok Supian Suri saat menghadiri Halal Bihalal Idul Fitri 1447 H dan Rapat Pleno serta Koordonisi Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Depok, Senin (13/04/26).
Dalam kesempatan itu, Ketua MUI Kota Depok KH. Syihabuddin Ahmad mengungkapkan kegiatan ini bertujuan untuk merajut sinergi dan kebersamaan antara tokoh agama dan jajaran pemerintah. “Semoga para ulama dapat terus mendukung program pemkot Depok dan mempersiapkan generasi muda dengan karakter dan akhlak yang baik,” harapnya seraya membahas pengurangan alokasi program Bimbingan Rohani (Bimroh) karena adanya efisiensi.
Mengawali sambutannya, Wali Kota mengatakan, atas nama Pemerintah Kota Depok, kami mengucapkan mohon maaf lahir batin. “Maaf jika selama satu pemerintahan kami, masih ada kekurangan disana sini. Doakan kami agar kami bisa terus memberikan pelayanan terbaik untuk masyarakat. Terima kasih telah berjalan beriringan dalam satu tahun pertama ini. Mari terus melangkah untuk membangun Depok Maju,” kata Supian menambahkan bahwa pihaknya menerima segala masukan, diskusi dan evaluasi.
Terkait dengan Bimroh, Pemimpin Kota Depok mengatakan akan melakukan evaluasi agar lebih tepat sasaran dan memberikan dampak nyata dalam mengatasi persoalan buta huruf Al Qur’an di kalangan pelajar. Pasalnya, dari sekitar 32 ribu lulusan SD setiap tahun, hanya sekitar 30 persen yang mampu membaca Al-Qur’an. Artinya masih banyak anak-anak yang belum bisa baca Al-Qur’an. “Ini jadi perhatian serius yang harus kita atasi bersama,” tegasnya seraya menginformasikan, sebelumnya alokasi anggaran Bimroh cukup besar dengan cakupan hingga 2.000 peserta. Saat ini, dengan kondisi fiskal yang mengalami pengurangan dari pemerintah pusat sekitar Rp386 miliar, maka pemerintah daerah harus melakukan penyesuaian tanpa menghilangkan prioritas utama.
“Ini bukan semata-mata efisiensi, tetapi ada prioritas yang harus kita penuhi. Kita evaluasi agar anggaran yang ada benar-benar memberikan dampak. Untuk proram Bimroh saat ini masih ada sekitat 630 peserta,” jelas Wali Kota yang ingin mengembalikan Bimroh ke tujuan awal, yaitu memperkuat peran guru ngaji.
Harus jelas berapa anak yang diajar, metode yang digunakan, dan bagaimana hasilnya. Selama ini, pelaksanaan Bimroh belum sepenuhnya tepat sasaran, karena tidak seluruh penerima manfaat merupakan pengajar langsung di lapangan. “Mari kita perkuat kolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk MUI, Kementerian Agama, serta organisasi keagamaan seperti NU dan Muhammadiyah untuk merumuskan langkah konkret dalam mengatasi persoalan buta Al Qur’an,” ajak Wali Kota yang berencana mengarahkan fokus program Guru Lekar agar lebih menyasar para guru ngaji, yang dinilai memiliki peran strategis dalam meningkatkan kemampuan baca Al-Qur’an anak-anak sejak dini.
Diakhir sambutannya, Pemimpin Kota Depok juga menginformasikan bahwa Pemkot Depok telah menjalin kerja sama dengan Muslimat NU dalam uji coba metode pembelajaran Al-Qur’an di sejumlah titik sebagai pilot project. Dimana metodenya beragam dan efektif yang nantinya akan dikembangkan sehingga anak-anak sudah bisa baca Al-Qur’an saat lulus sekolah dasar.
Depok, 13 April 2026
Sub Bagian Dokumentasi Pimpinan
Bagian Prokopim Setda Kota Depok
Siti Kholasoh
