
Wakil Wali Kota Depok, Chandra Rahmansyah mengapresiasi dan memberikan dukungan penuh terhadap Gerakan Nasional Budaya Sensor Mandiri yang dicanangkan oleh Lembaga Sensor Film (LSF) Republik Indonesia. Kota Depok bangga dipilih menjadi salah satu lokasi pencanangan dan sosialisasi gerakan ini. Kegiatan juga dirangkai dengan nonton bareng (nobar) film karya anak bangsa.
Wakil Wali Kota menyampaikan bahwa film bukan sekadar media hiburan visual semata, melainkan instrumen edukasi strategis yang efektif dalam membentuk karakter, moral, dan etika generasi penerus bangsa demi menyongsong Indonesia Emas 2045.
“Kami atas nama Pemerintah Kota Depok menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada Lembaga Sensor Film, jajaran produser, akademisi, serta seluruh stakeholder perfilman nasional. Film adalah media pemantik literasi. Melalui Gerakan Nasional Budaya Sensor Mandiri, kita memastikan bahwa tontonan yang hadir di tengah masyarakat sesuai dengan klasifikasi usia, sehingga edukasi yang disampaikan menjadi tepat sasaran,” ujar Chandra.
Dalam kegiatan nobar tersebut, diputar dua karya sinema nasional yang sarat nilai edukasi moral, yakni film “Jangan Buang Ibu” produksi Leo Pictures dan “Takkan Ku Biarkan Kau Menangis” karya Langit Pictures Indonesia.
Wakil Wali Kota turut menyoroti pesan moral mendalam yang diangkat, khususnya terkait isu komunikasi dalam keluarga. Banyak persoalan kenakalan remaja di luar sana berakar dari kurangnya komunikasi atau miskomunikasi antara orang tua dan anak di rumah.
“Cerita dalam film-film ini sangat relevan (relate) dengan kehidupan sehari-hari. Ini menjadi pelajaran dan pengingat yang aktual bagi para orang tua dan anak-anak di Kota Depok agar terus membangun komunikasi yang harmonis di dalam keluarga,” tambahnya.
Sementara itu, Ketua Lembaga Sensor Film (LSF) RI, Naswardi, menjelaskan bahwa kampanye “Memilah dan Memilih Tontonan” melalui Gerakan Nasional Budaya Sensor Mandiri diprioritaskan pada tiga pilar utama masyarakat yaitu kelompok akademisi (mahasiswa,dosen dan perguruan tinggi), komunitas masyarakat (kelompok PKK, posyandu, Majlis Taklim) dan juga kelompok masyarakat lainnya.
Di Depok, LSF menggandeng Universitas Indonesia (UI) dan berbagai elemen masyarakat lokal sebagai ujung tombak edukasi literasi tontonan.
“Berdasarkan riset LSF pada tahun 2023, fakta menunjukkan baru sekitar 46% masyarakat, khususnya anak-anak yang menonton film dengan memperhatikan klasifikasi usia. Di era digital saat ini, potensi anak terpapar tontonan dewasa melalui smartphone dan media sosial sangat tinggi. Karena itu, urgensi budaya sensor mandiri harus terus kita dorong agar menjadi kebiasaan di masyarakat,” tegas Naswardi.
Naswardi juga menambahkan bahwa pemilihan Kota Depok sebagai pusat kegiatan tidak lepas dari tingginya antusiasme masyarakat dan pesatnya ekosistem bioskop di Kota Depok.
Pemerintah Kota Depok bersama LSF berkomitmen untuk terus berkolaborasi menghadirkan tontonan yang tak hanya menghibur, tetapi juga sehat, bermutu, dan mengedukasi seluruh lapisan masyarakat.
Sub Bagian Dokumentasi Pimpinan
Bagian Protokol dan Komunikasi Pimpinan
Sekretariat Daerah Kota Depok
Oktavia Permatasari
